First Look… Datsun Go+

IMG_12042014_095009

Hai bro n sis… Setelah program LCGC diluncurkan oleh Pemerintah Pusat tahun lalu, banyak pabrikan otomotif roda empat tanah air yang bermain pada segmen mobil dibawah harga Rp100-jutaan ini. Dan pabrikan yang baru saja mengeluarkan produknya di segmen ini adalah Datsun dengan produk andalannya yang diberi nama Go+. Beberapa waktu lalu saat iseng main di Dealer Nissan-Datsun Lippo Cikarang singkat cerita ketemulah dengan Datsun Go+ ini.

IMG_12042014_094828

Dari pandangan pertama melihat Datsun Go+ ini tampaknya istilah “Ono rego ono rupo” memang ada benarnya. Mobil dengan tempat duduk 5+2 ini tampaknya lebih pantas buat kendaraan operasional niaga. Ini terlihat dari minimnya fitur yang disematkan pada mobil dengan harga dibawah Rp 100 juta ini. Selain itu kualitas material interiornya bisa dikatakan kurang berkelas, hal ini dapat kita lihat pada tipisnya material plastik pembungkus pintu bagian dalam dan dasbor. Kain pembungkus jok-nya pun juga tipis dan terkesan panas dengan busa didalamnya yang tipis pula. Untuk pintu depan jika mobil LCGC lainnya sudah menyematkan fitur power window, maka pada Datsun Go+ ini masih manual engkol sehingga kurang praktis terutama bagi pengemudi. Perangkat audionya pun sangat minimalis karena hanya ada dudukan Smartphone, tombol ON/OFF, tombol volume serta colokan USB dan Aux In.

IMG_12042014_094633

Sedangkan sektor eksterior untuk designnya bisa dikatakan modern dan sporty, namun sayangnya untuk kualitas cat-nya dan material body cukup tipis seperti mobil LCGC lainnya. Pada bagian rodanya hanya dibekali velg kaleng berdiameter 13″. So.. jika kita mencari mobil untuk tujuan niaga mungkin Datsun Go+ ini bisa menjadi salah satu pilihan karena selain harganya yang murah, mobil ini juga menawarkan kabin yang luas berbeda dengan mobil LCGC lainnya yang berkonsep city car.

IMG_12042014_095035

IMG_12042014_094645

IMG_12042014_094702

IMG_12042014_094714

IMG_12042014_094918

IMG_12042014_094811

IMG_12042014_094847

Benarkah sepeda motor biang kemacetan…?

Gambar diambil dari Tribbunnews.com

Gambar diambil dari Tribunnews.com

Hai bro n sis.. Beberapa waktu lalu beredar wacana yang merupakan ide dari Wagub DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok, dimana sepeda motor dilarang masuk dibeberapa ruas jalan utama Jakarta dengan alasan untuk mengurangi kemacetan. Banyak pro-kontra terhadap wacana tersebut, namun marilah kita kaji lebih dalam kira-kira benarkah sepeda motor merupakan biang kemacetan..?

Jika kita lihat sehari-hari sebenarnya kemacetan yang terjadi di ibukota dan beberapa kota lainnya terjadi karena beberapa faktor sbb :

1. Pertumbuhan ruas jalan yang tak sebanding dengan meningkatnya populasi kendaraan baik mobil ataupun sepeda motor.

2. Banyaknya jalan rusak yang tidak segera diperbaiki menyebabkan laju kendaraan tersendat.

3. Adanya pedagang yang jualan dibahu jalan.

4. Banyaknya pemilik kendaraan yang memarkirkan mobil atau motornya disembarang tempat.

5. Transportasi Umum dengan harga terjangkau yang kurang memadai serta kurang nyaman dan aman, sehingga membuat orang lebih memilih naik kendaraannya sendiri.

6. Sistem drainase yang buruk sehingga menyebabkan air menggenang dijalan saat hujan deras.

7. Dsb

Dari beberapa faktor penyebab kemacetan diatas maka sebenarnya yang perlu segera dilakukan pemerintah adalah sbb :

1. Perbaiki sarana Transportasi umum dengan menyediakan alat transportasi umum yang terjangkau, memadai, aman dan nyaman serta cepat sehingga masyarakat lebih asyik naik transportasi umum dibanding kendaraan pribadi.

2. Segera perbaiki jalan yang rusak sehingga tidak makin parah dan mengganggu laju kendaraan di jalan raya.

3. Relokasi pedagang yang jualan dibahu jalan serta sanksi yang tegas terhadap para pelanggar aturan lalu lintas ( termasuk yang parkir sembarangan ).

4. Adanya konektifitas yang selaras dalam membuat kebijakan antara pemerintah pusat dan daerah sehingga antara kebijakan yang satu dengan yang lain tidak kontradiktif. Contohnya Program LCGC yang digagas pemerintah pusat yang imbasnya malah menambah kemacetan di ibukota dan beberapa tempat lainnya.

5. Perbaikan sistem drainase supaya mampu mengalirkan air hujan yang turun sehingga tidak menggenang di jalan.

Dengan hal-hal tsb diatas maka tak sewajarnya muncul kebijakan baru yang diskriminasi terhadap salah satu pihak, dalam hal ini pengendara motor yang dirugikan padahal penyumbang kemacetan juga dilakukan oleh lainnya. Jika memang melarang kendaraan bermotor masuk area tertentu sebaiknya tak cuman sepeda motor saja yang dilarang tapi mobilpun juga dilarang masuk. Kemudian sebagai penggantinya pemerintah menyediakan sarana transportasi umum yang memadai, nyaman, aman dan terjangkau didaerah tersebut, plus tempat parkir yang luas guna menampung kendaraan pribadi mereka yang tidak bisa masuk ke wilayah tersebut. Jika hal tersebut tak dilakukan pemerintah tampaknya hal yang mustahil kemacetan akan hilang dari ibukota dan daerah lainnya.